Selasa, 06 Mei 2014

Kekayaan sumber kesusahan?



Kekayaan sumber kesusahan?
Lembaga Alkitab Indonesia-Terjemahan Baru (LAI-TB):
Amsal 10:22 Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.
Kadang saya mendengar orang bersaksi (sharing) menceritakan keberhasilan/berkat ‘ekonomi’nya dengan mengutip ayat tersebut.
Ayat tersebut dimaknai bahwa kekayaan/harta/berkat-jasmani, adalah berkat dari Tuhan dan susah payah kita, tidak akan menambah kekayaan itu. Jadi ayat itu mendukung keyakinan seseorang bahwa “mengandalkan TUHAN, itu jauh lebih baik daripada SUSAH-PAYAH berusaha mencari/mengumpulkan kekayaan”
Benarkah Amsal 10:22 itu bermakna demikian? TIDAK BENAR!!
Mari kita periksa terjemahan Kitab Suci yang lain, saya kutipkan dari LAI-Terjemahan Lama:
Amsal 10:22 Bahwa berkat Tuhan juga yang menjadikan kaya, dan tiada disertainya dengan kedukaan
dari King James Version (KJV):
Proverbs 10:22 The blessing of the LORD, it maketh rich, and he addeth no sorrow with it.
dari Kitab Suci Indonesian Literal Translation (KS-ILT):
Amsal 10:22 Berkat YAHWEH menjadikan kaya, dan Dia tidak menambah kesusahan dengannya.
Dari ketiga versi selain LAI-TB, jelas khan.. arti ayat itu, bahwa jika kekayaan kita itu berasal dari TUHAN — huruf besar semua, maka dalam kekayaan itu tidak disertai dengan kesusahan (akibat) kekayaan itu.
Contoh kekayaan yang disertai dengan kesusahan:
Orang berhasil membeli mobil baru, dikendarai di jalan raya, kemudian kecelakaan mengakibatkan kematian orang yang bersangkutan. (kekayaan menjadi “kutuk”)